Sebagain orang pastinya ingin mendapatkan hiburan ketika menghadiri sebuah pertunjukkan musik atau konser, dari musisi yang diidolakannya. Mereka yang mengaku fans, tak segan-segan merogoh kocek yang cukup dalam, agar dapat menonton konser idolanya. Biasanya, promotor konser akan menjual tiket dalam beberapa sesi. Sesi pertama dinamai early bird, harganya cenderung lebih murah, bahkan dapat diskon sampai 70%. Sesi kedua yaitu pre sale 1, di sesi kedua ini akan mendapat diskon sekitar 50%. Selanjutnya, sesi ketiga atau pre sale 2, harga tiketnya masih mendapat diskon, tetapi hanya sedikit yaitu 20%. Nah, yang sesi terakhir adalah regular, harga tiket di sesi ini normal, tanpa mendapatkan diskon.

Di satu sisi, ada seseorang yang rela-rela menghabiskan uangnya untuk menonton konser. Namun, di sisi lain, ada seseorang yang datang ke konser karena ‘gratis.’ Biasanya, konser gratis tersebut disponsori oleh pemerintah atau perusahaan rokok terkenal. Meskipun gratis, konser itu tetap menyuguhkan musisi-musisi terkenal di Indonesia. Jadi, tak pernah ada kata sepi penonton ketika konser gratis diadakan.

Kehadiran konser gratis memang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak orang, mereka bahkan rela berdesak-desakkan dengan penonton lainnya, demi menonton musisi andalannya. Mereka berharap konser gratis ini menjadi hiburan yang menyenangkan. Namun, terkadang konser yang mereka pikir menyenangkan malah berubah menjadi petaka. Seperti ada yang dompetnya kecopetan, ada yang sesak nafas, bahkan ada yang sampai pingsan. Dan, yang paling menyedihkan yaitu ada yang mengalami pelecehan seksual.

Kejadian tidak mengenakan yang selalu terjadi di konser gratis, sebab sebagian penonton tidak tertib dalam menikmati musik. Mereka malah melakukan moshing atau crowdsufing, menari sambil tendang-tendangan. Perilaku penonton yang seperti itulah yang membuat konser tidak kondusif lagi.

Contoh nyatanya terjadi pada seorang perempuan yang bernama Fattwa Pujanggawati, ia mengalami pelecehan seksual oleh sesama penonton konser. Pelecehan itu terjadi ketika band .Feast manggung di acara konser yang berada di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu, 19 Oktober 2019. Ia menuturkan keresahan akibat pelecehan seksual yang dialaminya, melalui akun twitternya yang bernama @Pujanggavati.

Cuitan tentang keresahannya di konser tersebut pun menjadi viral, dan mendapatkan banyak tanggapan dari netizen di twitter. Cuitan tersebut akhirnya sampai pada Baskara Putra, ia adalah sang vokalis band .Feast. Ia cukup geram ketika membaca cuitan korban pelecehan seksual. Akhrinya, ia mencetuskan suatu tanda baru, sebagai alarm ketika terjadi bahaya, misalnya terjadi pelecehan seksual, kekerasan, dan keadaan seperti ingin pingsan. Tanda tersebut berupa video bertuliskan S.O.S yang dapat diarahkan ke panggung penampil, dan juga penonton lainnya.


Usul Baskara tentang alarm tanda bahaya pun disambut baik oleh beberapa musikus lainnya, seperti Kunto Aji, Danilla, dan The Panturas. Musikus-musikus itu pun saat ini juga ikut mensosialisasikan alarm tanda bahaya tersebut melalui twitter mereka. Video tanda bahaya tersebut dapat di download di akun twitter @wordfangs, @KuntoAjiw, @danillajpr, dan @theppanturas. Para musikus pun menyarankan kepada orang-orang agar mendownload video tersebut, guna meminimalisir keadaan yang tidak diinginkan.

Sumber : Tiket